Ada pertanyaan yang kadang bergema di benakku: “Apakah aku sudah mengenal
Indonesia? Seberapa kenal?” Pertanyaan ini belum menemukan jawaban yang pasti.
Entahlah. Mau dijawab sudah kenal, tapi kok rasanya belum kenal-kenal amat.
Tapi kalau dijawab belum, kok rasanya keterlaluan. Bagaimanapun, sebagai orang
Jawa yang lahir dan besar di Pulau Jawa, aku merasa hidupku ya seputar Jawa.
Ketika suatu kali aku berkunjung ke Pulau Bali dan Belitung, sempat terbersit
dalam pikiranku, “Eh, ini bagian dari Indonesia juga ya? Ternyata Indonesia itu
bukan cuma Jawa dan Jawa dan Jawa.” (Ya iyalah… baru sadar ya? Kasihan deh aku.
Hahaha.) Melihat Indonesia dari pulau lain selalu memberikan kesan lain dalam
diriku tentang Indonesia. Kesan itu ya soal keindahannya, soal keragaman
budayanya, soal Indonesia itu sendiri.
Kemarin aku mendapat sekilas
perenungan untuk menjawab pertanyaan di atas dari film yang kutonton. Kemarin
aku dan suamiku nonton film, judulnya
The Mirror Never Lies (Laut
Bercermin). Pertama kali melihat poster film Indonesia itu, aku
sebenarnya tak ingin terlalu berharap. Entah kenapa ya, kalau ada label film
Indonesia, kok aku belakangan agak tak yakin bakal bagus. Apalagi belakangan
yang paling mendominasi adalah film pocong dan kawan-kawannya.
Oke, jadi bagaimana film tersebut?
“Film ini settingnya di Wakatobi,” kata suamiku.
Eh, Wakatobi itu di mana sih? Rasanya pernah dengar. Ketahuan kan kalau
pelajaran geografiku buruk? :D
“Berkisah tentang suku Bajo,”
lanjutnya. Apa itu suku Bajo? Aku memang pernah membeli buku
"Orang
Bajo" yang mengisahkan perjalanan seorang antropolog Perancis
yang sempat menghabiskan waktu beberapa bulan bersama orang Bajo. Tetapi, aku
baru membaca sekilas buku itu dan belum kubaca lebih detail. Niatnya sebelum
nonton ingin membaca buku itu dulu, tetapi tumpukan baju kotor lebih memaksaku
untuk mencuci daripada melewatkan waktu membaca buku.
Lanjut dulu saja deh.
Film itu menceritakan kisah seorang gadis pra-remaja bernama
Pakis
(Gita Lovalista). Ayahnya hilang di lautan. Ia sekarang tinggal berdua
saja dengan ibunya,
Tayung (Atiqah Hasiolan), yang kini
menjadi tulang punggung keluarga. Tayung dan Pakis sering berselisih.
Masalahnya, Pakis masih berharap ayahnya akan pulang sembari terus menghidupkan
kenangan dengan sang ayah, sedangkan Tayung berusaha untuk realistis dan
berusaha menerima bahwa suaminya memang sudah tiada. Bagaimanapun perilaku
Pakis yang sering berkutat dengan
mirror pemberian ayahnya dan beberapa kali
pergi ke paranormal untuk menanyakan keberadaan sang ayah, membuat Tayung
sedih. Tetapi dia berusaha menyembunyikan kedukaannya itu lalu ia mulai memakai
pupur putih di wajahnya.
Pakis berteman dekat dengan
Lubo (Eko), seorang bocah
lelaki teman sekelasnya. Menurutku dia menjadi penyeimbang karakter Pakis yang
sering sedih. Bocah itu ceria dan sering membantu Pakis.
Suatu hari, datanglah
Tudo (Reza Rahadian), seorang pemuda
Jakarta yang meneliti lumba-lumba. Awalnya Pakis kurang suka dengan Tudo.
Tetapi lama-lama Pakis sering membantu Tudo juga–tentunya dengan Lubo dan salah
seorang kawannya yang suka bernyanyi
Kutta (Inal). Kisah film
itu berkembang di sekitar para tokoh itu: Pakis, Tayung, Tudo, dan Lubo.
Bagiku yang menarik dari film itu
adalah gambaran tentang suku Bajo yang kental. Kekentalan itu tampak dari
bahasa yang dipakai, yaitu bahasa orang Bajo. Jangan khawatir, ada terjemahan
bahasa Indonesianya kok. Lalu ditambah lagi, pengambilan gambar cukup detail
tentang keseharian masyarakat Bajo (tentang kasuami, pasar tempat mereka
berjual-beli, kaum lelaki yang mencari ikan, dll) dan upacara adat mereka
(upacara perjodohan serta penguburan). Dan yang paling keren adalah
gambar-gambar pemandangan alam di sana. Cantik sekali.

Hal lain yang menarik adalah tokoh
utama film itu Pakis, dimainkan oleh gadis asli suku Bajo, Gita Lovalista.
Aktingnya tidak canggung. Selain itu, Lubo, yang dimainkan oleh Eko juga anak
suku Bajo. Kalau diminta menilai akting antara Eko dan Gita, bagiku lebih asyik
si Eko. Yang lucu adalah adegan ketika Eko memberi makan burung camar
peliharaannya. Lucu banget. Dia mengulur-ulur memberi makan, dan kepala si
camar ikut bergerak mengikuti gerakan tangan Lubo. Hihihi, jadi geli sendiri kalau
ingat.
Menurutku, film ini cocok untuk mempromosikan pariwisata daerah Sulawesi
Tenggara, terutama soal suku Bajo dan daerah Wakatobi. Gambar-gambarnya di film
itu amat menawan: langit yang biru, gumpalan awan yang seperti kapas, laut yang
jernih, pemandangan bawah laut yang aduuuh … keren banget deh!!! Saat
menyaksikan itu aku jadi bangga jadi orang Indonesia. Indonesia memang cantik
pemandangan alamnya.
Kalau mau mengulik kekurangan film ini, yaitu ceritanya kurang kuatnya dalam
menarik emosi penonton. Aku termasuk penonton yang cengeng, yang kalau ada
adegan mengharukan sedikiiit saja, pasti mataku sudah panas. Tetapi kemarin aku
tak sampai keluar bioskop dengan mata merah. Hehehe. Tetapi yang aku suka
adalah, film ini tidak menggurui. Jadi, orang-orang yang sering mengharapkan
bisa menarik pelajaran moral dari film (eh, ini penting ya?), kurasa akan
kecewa.
Pra produksi film ini memakan waktu 3 tahun. Film ini disutradarai oleh
seorang gadis berumur 25 tahun,
Kamila Andini, yang kurasa
berhasil dimemetik pelajaran dari sang ayah,
Garin Nugroho. Sebagai
film pertama hasil penyutradaraannya, film ini bagus banget. Dan, yah, film ini
menggambarkan Indonesia dari sisi lain. Kurasa, bangsa ini memerlukan film-film
serupa, yaitu film yang menunjukkan ceruk-ceruk cantik dari Indonesia. Semoga
ke depan, film horor dan film cinta-cintaan tak bermutu tidak mendominasi
bioskop di Indonesia.
ini mirror yang asli saya ambil dari
www.oden-houseware.com
Sumber: http://blognyakrismariana.wordpress.com